Jumat, 20 Oktober 2017

Simfoni Pelangi Mimpi


PUISI KARYA : Hj. NURLISNA, S.Pd



1.      TANGISAN IBU PERTIWI
Kemana pergi..  indah alam negeri ku
Kemana pergi.. luas bentang sungai memutih jernih
Kemana pergi.. sayup suara tawa bahagia.. anak negeriku
Kemana pergi... keramahtamahan yang dulu pernah kita miliki.

Haaaa.hahaaaaa..
Tawa histeris pejabat berdasi selalu menghiasi layar televisi
Mereka tak peduli ,walau harus korupsi
tawa anak negeri dalam buaian narkoba seolah seorang  pemberani
tawuran antar pelajar mencoreng  muka para pendidik negeri
berapa nyawa bergelimpangan sia-sia...mereka ...mati.
dunia pendidikan menangis..........
ibu pertiwi menangis.............
orang tua  menangis...........
Bahkan bangsa Indonesia menangis.....

Sungguh.... miris
Hilangnya  prestasi tak lagi jadi gengsi
Kebebasan berekskpresi telah pula ternodai
 reformasi telah salah dimengerti
Semuanya tercampak.... terkubur ..... dalam budaya hiruk pikuk duniawi

Inikah negeri berbudaya ?
Inikah yang disebut reformasi ?
siapa peduli ?
Siapa mendengar ?
Siapa berdoa ?

Hmmmm...hmmmmm
           Akankah derita anak negeri terbiar dalam budaya kesia-siaan ?
Akankah kehormatan budi mulia yang dulu dimiliki hilang sirna?
Tidak.... sekali lagi tidak !

Kita harus bangkit !
Bangkitkan kehormatan bangsa  ini lewat  budaya
tunjukkan ketangguhan Indonesia dengan cinta
rebut prestasi dalam berkarya dan seni
 hapus air mata ibu pertiwi
Kembalikan Senyum para suhada yang telah pergi
Untuk  tercapai damai dalam kemerdekaan negeri
             kita  Lestarikan budaya keramah tamahan
            Dalam  kobaran semangat merah putih
            Demi  Meraih  prestasi dalam berkarya

Ayo... kawan-kawan semua
Kembalikan Senyum para suhada yang telah pergi
 hapus air mata ibu pertiwi
Dalam nuansa kelestarian berbudaya keramahan , kedisiplinan,
berkesenian, berolahraga, berbudi pekerti mulya.                                    



2.      BISIKAN HATI

Kucoba menengadah ke atas keluasan langit biru
Di antara gumpalan awan putih
Sekejap menyeruak seulas wajah
Wajah itu sangat kukenal
Wajah itu milikku
Wajah itu simbol cinta pertamaku
Wajah itu milik anak-anakku
Wajah itu milik ayah ibuku, seorang” menantu “

Aku bergumam, masihkah aku merasa wajah polos
Tak berdosa itu sebagai rajaku ?
Masihkah aku menganggap wajah  yang dulu pernah membuat aku menyerah
Tanpa syarat ke haribaan kasihnya, Sebagai imamku ?
Sementara....
Telah lama aku terbiar sia-sia tanpa rasa  peduli
Telah lama  batin ini menangis , diharibaanmu
Bermohon, berlutut, berharap  rengkuhan kasih sayangmu
Tapi aku dibiarkan nelangsa di sisimu
Hatimu telah kau berikan ke yang lain
Bahagiamu, gembiramu, harapanmu, sejatinya
Telah kau hadiahkan kepada kekasih hatimu yang lain

Kucoba menatap keluasan langit biru
Seraya menahan jatuhnya air mata untuk ....
Entah ....keberapa kalinya
Haruskah aku menangis darah sayangku ?
Haruskan aku menjerit memohon belas kasihmu ?
Supaya Engkau kembali ?
Supaya Kau lupakan kasih gelapmu  yang lain ?

Apa salahku...
Apa yang salah diriku di matamu ?
Semua telah ku korbankan
Semua telah ku perjuangkan
Semua sayang ku telah kuberikan
Ataukah kau inginkan “kematianku”
Agar kau dapatkan kepuasamu ?

Kutatap lengkungan langit biru
Tersembul  lembut bayang-bayang
Kekasih
Wajah lembut berikan aku harapan
Wajah itu wajah Tuhanku
Jemari kasihku, merengkuh tubuh lemahku ke pangkuannya
Kudengar bisikan halus penuh kepastian
Bahwa aku tidak sendiri
Bahwa aku punya dewa “ ayah ibu ‘
Bahwa aku punya intan permata” kedua malaikatku”
Bahwa aku punya benteng kokoh perkasa “ abangku”
Bahwa aku punya cinta “ cinta sahabat melebihi cinta saudara “
Oooooh , napasku lega.
Oooooh,  ternyata, aku tak sendiri
Ternyata aku punya segalanya
Pekerjaan, karir, kasih sayang
Semua aku punya
Aku punya Tuhan seperti aku miliknya Tuhan

Kutatap ke atas langit biru
Kucari sebentuk wajah
Wajah kasihku
Wajah imamku
Wajah penghancur batinku
Wajah cintaku dulu
Tapi.... tak lagi dapat kulihat
Kutelungkup  kedua tanganku menutup wajahku
Kututup pintu hati
Kututup buku catatan kisah kasih
Penuh haru biru
Kulepaskan semuanya
Tuhan...
Ampuni hambamu yang lemah
Tak kuasa memelihara amanahmu
Tak mampu menahan kesabaran hati
Mungkin  cintaku berakhir di sini
Lengkung langit tak lagi biru
Awan hitam menghambur pergi seperti tetes hujan deras
Membasahi  jalanan panjang kisah kasihku.


3.      PUISI UNTUK SAHABAT

                      Telah dibacakan pada moment perpisahan dengan Bpk samto Darmos , M.Pd
Kepala SDBI Argamakmur 2012     
           
SAHABAT
Jarum hari masih terlalu pagi
Ketika kudapat kabar,  kau akan pergi
Kuberharap ini hanya seutas mimpi
Ternyata , ini benar-benar  terjadi

SAHABATKU
Sesungguhnya perpisahan ini tak pernah kuinginkan
Karena masih sangat panjang jalanan juang
Yang harus kita lalui
Masih sangat tinggi harapan yang harus kita  raih.
Masih banyak amanah yang harus kita tapaki

SAHABAT
Bersamamu aku berani , menembus menembus berbagai terobosan.
 bersamamu  aku berani,  merentas berbagai jalan pintas
karena kita bermodalkan keikhlasan
demi  kasih ... demi prestasi anak negeri ,
bersamamu kita tertawa, bersamamu kita menangis
menyibak berbagai rintangan yang meranggas tajam
bahu  membahu  meniti  jalanan  penuh  onak  duri
berpondasi tekad  semangat   nawaitu
dan   keprihatinan
meskipun… ham buran
desing  caci…dera maki
dan  berbagai  hujatan   kepada   kita
kepada  almammater  kita
mewarnai…
tetapi   kemulyaan     budi  bahasamu
mengalahkan   keluhku
kesahajaanmu   terbukti…
 mampu menguraikan   semua   gumpalan  benang  kusut
 yang membelit  kita
kebijaksanaanmu,  menerangi   jalan   dakwahmu

sahabat
bagiku  kau  terlalu  naif …  terlalu suci
lelah ku   mencari  celah  dosamu
lelah   kumencari  butir  salahmu
kau memang bukan nabi
tetapi  kau  telah  mengubah  dunia
kau telah membuka mata ku
kau telah mengajarkan aku
tentang hidup
tentang perjuangan seorang guru yang sesungguhnya
tentang  ketegaran
dan tentang bagaimana mengalah dari sebuah  keegoisan


sahabat
kini  aku  mengerti  dan  benar-benar  mengerti
mengapa  kau  harus  pergi
rasanya  ingin  kupatahkan  dinding  penyekat  diatara  kita
agar  kebersamaan tetap  tergenggam
mencoba  tak  hiraukan  tawa  mereka
mencoba  abaikan  segala  hiruk  pikuk  kepentingan
tetapi tidak sahabat
aku tak ingin tangisku memberati langkahmu
aku tak ingin mengubah dirimu menjadi orang lain
kau  tetaplah  kau
bagimu tiada kata menyerah
dan itu adalah  kebanggaanku, kebanggaan kami semua
karena bukit ketegaran  adalah  harga dirimu
“setiap tantangan jadikan peluang”
akan  kuingat  selalu petuah  bernas
yang  bagaikan  suntikan  infirasi  di saat lelah  mulai  hampiri

terimakasih sahabat ku!
kini ….
tak lagi kulihat kau yang duduk di sana
yang ada hanya bayang – bayangmu
dalam balutan memori masa silam
“senyummu…”
“sapamu…”
“salammu…”
“insya allah berlian dilubang semutpun tetap berkilau”
“kembangkan potensi”
“tingkatkan budaya prestasi”
warisan  manis darimu akan kuingat selalu
sekali lagi terimakasih
goodbye
selamat jalan sahabatku
doaku selalu menyertaimu
                                

4.      AKU KINI

Jadikan hasratku merekah
Dan hatiku tergugah
Sinarmatamu berbinar
Seberkas memori indah terkemas rapi
Dalam lembaran ingatanku
Semua jadi penghibur
Dikala serangan duka tiba
Sehingga melebur keruhnya suasana


Tersentak…
Tak sepatahpun kata –kata keluar
Dari mulutmu
Seakan rembulan memahami
Betapa aku  terpuruk  Kau tinggalkan
Dunia seketika menjadi gulita
Meskipun ada beberapa butir gumintang
Berusaha berbagi sinarnya.



5.      KEMBALI
                                                                                                Karya :  Hj. Nurlisna
           
                        Saat  angin bertiup kencang ,
Menerjang
Ombak menggulung
Laut bergemuruh
Musibah menimpa
Bencana melanda
Tragedi terjadi
            Jalan penyelamatan pun tertutup
            Setiap inci jalan seolah menyempit
            Semua lorong ,  jalan pintas membuntu
            Bumi terasa menyempit
            Jiwa serasa tertekan oleh beban berat
Harta dan jabatan saat itu jadi tak berguna
Gedung bertingkat tak lagi dipedulikan
Hidup bagaikan penumpang kapal
Di tengah ombak mengganas
Panik, bingung
Tak tentu arah
                        Saat itu…
                        Tiada lain tempat kembali
                        Hanya kepada Mu Ya Rabbi
                        Lakukan doa yang tulus
Air mata menetes penuh keikhlasan
Tengadahkan kedua telapak tangan
Julurkan lengan penuh harap
Arahkan tatapanmu hanya ke arah-Nya
Gerakkan lidah hanya untuk menyebut, mengingat dan berzikir
Kembalilah kepada-Nya
Bawalah iman yang berkobar
Serta kokohkan tonggak keyakinan.

                                                            Argamakmur, 29 november 2010

1 komentar:

  1. Alhamdulillah terbit buku antologi puisi Simfoni pelangi Mimpi bersama teman - teman guru SD. Terimakasih Bpk herman Suryadi, S.Pd M.Pd yang telah menghimpun para penulis.

    BalasHapus