PUISI KARYA : Hj. NURLISNA, S.Pd
1. TANGISAN IBU
PERTIWI
Kemana pergi..
indah alam negeri ku
Kemana pergi.. luas bentang sungai memutih jernih
Kemana pergi.. sayup suara tawa bahagia.. anak
negeriku
Kemana pergi... keramahtamahan yang dulu pernah kita
miliki.
Haaaa.hahaaaaa..
Tawa histeris pejabat berdasi selalu menghiasi layar
televisi
Mereka tak peduli ,walau harus korupsi
tawa anak negeri dalam buaian narkoba seolah
seorang pemberani
tawuran antar pelajar mencoreng muka para pendidik negeri
berapa nyawa bergelimpangan sia-sia...mereka ...mati.
dunia pendidikan menangis..........
ibu pertiwi menangis.............
orang tua
menangis...........
Bahkan bangsa Indonesia menangis.....
Sungguh.... miris
Hilangnya
prestasi tak lagi jadi gengsi
Kebebasan berekskpresi telah pula ternodai
reformasi telah
salah dimengerti
Semuanya tercampak.... terkubur ..... dalam budaya
hiruk pikuk duniawi
Inikah negeri berbudaya ?
Inikah yang disebut reformasi ?
siapa peduli ?
Siapa mendengar ?
Siapa berdoa ?
Hmmmm...hmmmmm
Akankah derita anak negeri terbiar dalam
budaya kesia-siaan ?
Akankah kehormatan budi mulia yang dulu dimiliki
hilang sirna?
Tidak.... sekali lagi tidak !
Kita harus bangkit !
Bangkitkan kehormatan bangsa ini lewat
budaya
tunjukkan ketangguhan Indonesia dengan cinta
rebut prestasi dalam berkarya dan seni
hapus air mata
ibu pertiwi
Kembalikan Senyum para suhada yang telah pergi
Untuk tercapai
damai dalam kemerdekaan negeri
kita Lestarikan budaya keramah tamahan
Dalam kobaran semangat merah putih
Demi
Meraih prestasi dalam berkarya
Ayo... kawan-kawan
semua
Kembalikan Senyum para suhada yang telah pergi
hapus air mata
ibu pertiwi
Dalam nuansa kelestarian berbudaya keramahan ,
kedisiplinan,
berkesenian, berolahraga, berbudi pekerti mulya.
2.
BISIKAN HATI
Kucoba
menengadah ke atas keluasan langit biru
Di antara
gumpalan awan putih
Sekejap
menyeruak seulas wajah
Wajah itu
sangat kukenal
Wajah itu
milikku
Wajah itu
simbol cinta pertamaku
Wajah itu
milik anak-anakku
Wajah itu
milik ayah ibuku, seorang” menantu “
Aku
bergumam, masihkah aku merasa wajah polos
Tak
berdosa itu sebagai rajaku ?
Masihkah
aku menganggap wajah yang dulu pernah
membuat aku menyerah
Tanpa
syarat ke haribaan kasihnya, Sebagai imamku ?
Sementara....
Telah lama
aku terbiar sia-sia tanpa rasa peduli
Telah
lama batin ini menangis , diharibaanmu
Bermohon,
berlutut, berharap rengkuhan kasih
sayangmu
Tapi aku
dibiarkan nelangsa di sisimu
Hatimu
telah kau berikan ke yang lain
Bahagiamu,
gembiramu, harapanmu, sejatinya
Telah kau hadiahkan
kepada kekasih hatimu yang lain
Kucoba
menatap keluasan langit biru
Seraya
menahan jatuhnya air mata untuk ....
Entah
....keberapa kalinya
Haruskah
aku menangis darah sayangku ?
Haruskan
aku menjerit memohon belas kasihmu ?
Supaya Engkau
kembali ?
Supaya Kau
lupakan kasih gelapmu yang lain ?
Apa
salahku...
Apa yang
salah diriku di matamu ?
Semua
telah ku korbankan
Semua
telah ku perjuangkan
Semua
sayang ku telah kuberikan
Ataukah
kau inginkan “kematianku”
Agar kau
dapatkan kepuasamu ?
Kutatap lengkungan
langit biru
Tersembul lembut bayang-bayang
Kekasih
Wajah
lembut berikan aku harapan
Wajah itu
wajah Tuhanku
Jemari
kasihku, merengkuh tubuh lemahku ke pangkuannya
Kudengar
bisikan halus penuh kepastian
Bahwa aku
tidak sendiri
Bahwa aku
punya dewa “ ayah ibu ‘
Bahwa aku
punya intan permata” kedua malaikatku”
Bahwa aku
punya benteng kokoh perkasa “ abangku”
Bahwa aku
punya cinta “ cinta sahabat melebihi cinta saudara “
Oooooh ,
napasku lega.
Oooooh, ternyata, aku tak sendiri
Ternyata
aku punya segalanya
Pekerjaan,
karir, kasih sayang
Semua aku
punya
Aku punya
Tuhan seperti aku miliknya Tuhan
Kutatap ke
atas langit biru
Kucari
sebentuk wajah
Wajah
kasihku
Wajah
imamku
Wajah
penghancur batinku
Wajah
cintaku dulu
Tapi....
tak lagi dapat kulihat
Kutelungkup kedua tanganku menutup wajahku
Kututup
pintu hati
Kututup
buku catatan kisah kasih
Penuh haru
biru
Kulepaskan
semuanya
Tuhan...
Ampuni
hambamu yang lemah
Tak kuasa
memelihara amanahmu
Tak mampu
menahan kesabaran hati
Mungkin cintaku berakhir di sini
Lengkung
langit tak lagi biru
Awan hitam
menghambur pergi seperti tetes hujan deras
Membasahi jalanan panjang kisah kasihku.
3.
PUISI UNTUK
SAHABAT
Telah dibacakan pada moment perpisahan
dengan Bpk samto Darmos , M.Pd
Kepala SDBI Argamakmur
2012
SAHABAT
Jarum hari
masih terlalu pagi
Ketika
kudapat kabar, kau akan pergi
Kuberharap
ini hanya seutas mimpi
Ternyata ,
ini benar-benar terjadi
SAHABATKU
Sesungguhnya
perpisahan ini tak pernah kuinginkan
Karena
masih sangat panjang jalanan juang
Yang harus
kita lalui
Masih
sangat tinggi harapan yang harus kita
raih.
Masih
banyak amanah yang harus kita tapaki
SAHABAT
Bersamamu
aku berani , menembus menembus berbagai terobosan.
bersamamu
aku berani, merentas berbagai
jalan pintas
karena
kita bermodalkan keikhlasan
demi kasih ... demi prestasi anak negeri ,
bersamamu
kita tertawa, bersamamu kita menangis
menyibak
berbagai rintangan yang meranggas tajam
bahu membahu
meniti jalanan penuh
onak duri
berpondasi
tekad semangat nawaitu
dan keprihatinan
meskipun…
ham buran
desing caci…dera maki
dan berbagai
hujatan kepada kita
kepada almammater
kita
mewarnai…
tetapi kemulyaan
budi bahasamu
mengalahkan keluhku
kesahajaanmu terbukti…
mampu menguraikan semua
gumpalan benang kusut
yang membelit
kita
kebijaksanaanmu, menerangi
jalan dakwahmu
sahabat
bagiku kau
terlalu naif … terlalu suci
lelah
ku mencari celah
dosamu
lelah kumencari
butir salahmu
kau memang
bukan nabi
tetapi kau
telah mengubah dunia
kau telah
membuka mata ku
kau telah
mengajarkan aku
tentang
hidup
tentang
perjuangan seorang guru yang sesungguhnya
tentang ketegaran
dan
tentang bagaimana mengalah dari sebuah keegoisan
sahabat
kini aku
mengerti dan benar-benar
mengerti
mengapa kau
harus pergi
rasanya ingin
kupatahkan dinding penyekat
diatara kita
agar kebersamaan tetap tergenggam
mencoba tak
hiraukan tawa mereka
mencoba abaikan
segala hiruk pikuk
kepentingan
tetapi
tidak sahabat
aku tak
ingin tangisku memberati langkahmu
aku tak
ingin mengubah dirimu menjadi orang lain
kau tetaplah
kau
bagimu
tiada kata menyerah
dan itu
adalah kebanggaanku, kebanggaan kami
semua
karena
bukit ketegaran adalah harga dirimu
“setiap
tantangan jadikan peluang”
akan kuingat
selalu petuah bernas
yang bagaikan
suntikan infirasi di saat lelah
mulai hampiri
terimakasih
sahabat ku!
kini ….
tak lagi
kulihat kau yang duduk di sana
yang ada
hanya bayang – bayangmu
dalam
balutan memori masa silam
“senyummu…”
“sapamu…”
“salammu…”
“insya
allah berlian dilubang semutpun tetap berkilau”
“kembangkan
potensi”
“tingkatkan
budaya prestasi”
warisan manis darimu akan kuingat selalu
sekali
lagi terimakasih
goodbye
selamat
jalan sahabatku
doaku
selalu menyertaimu
Jadikan
hasratku merekah
Dan hatiku
tergugah
Sinarmatamu
berbinar
Seberkas
memori indah terkemas rapi
Dalam
lembaran ingatanku
Semua jadi
penghibur
Dikala
serangan duka tiba
Sehingga
melebur keruhnya suasana
Tersentak…
Tak
sepatahpun kata –kata keluar
Dari
mulutmu
Seakan
rembulan memahami
Betapa aku
terpuruk
Kau tinggalkan
Dunia
seketika menjadi gulita
Meskipun
ada beberapa butir gumintang
Berusaha
berbagi sinarnya.
5. KEMBALI
Karya
: Hj. Nurlisna
Saat angin bertiup kencang ,
Menerjang
Ombak
menggulung
Laut
bergemuruh
Musibah
menimpa
Bencana
melanda
Tragedi
terjadi
Jalan penyelamatan pun tertutup
Setiap inci jalan seolah menyempit
Semua lorong , jalan pintas membuntu
Bumi terasa menyempit
Jiwa serasa tertekan oleh beban
berat
Harta dan
jabatan saat itu jadi tak berguna
Gedung
bertingkat tak lagi dipedulikan
Hidup
bagaikan penumpang kapal
Di tengah
ombak mengganas
Panik,
bingung
Tak tentu
arah
Saat itu…
Tiada lain tempat
kembali
Hanya kepada Mu Ya Rabbi
Lakukan doa yang tulus
Air mata
menetes penuh keikhlasan
Tengadahkan
kedua telapak tangan
Julurkan
lengan penuh harap
Arahkan
tatapanmu hanya ke arah-Nya
Gerakkan
lidah hanya untuk menyebut, mengingat dan berzikir
Kembalilah
kepada-Nya
Bawalah
iman yang berkobar
Serta
kokohkan tonggak keyakinan.
Argamakmur,
29 november 2010

Alhamdulillah terbit buku antologi puisi Simfoni pelangi Mimpi bersama teman - teman guru SD. Terimakasih Bpk herman Suryadi, S.Pd M.Pd yang telah menghimpun para penulis.
BalasHapus